Selamat Hari Ibu (Lagi!)

Selamat Hari Perempuan Internasional! Kata timeline.

Percaya atau tidak, di Indonesia kita merayakan setidaknya tiga hari khusus untuk perempuan. Tiga kali, ya tiga kali. Mulai dari yang tingkat lokal, hari Kartini tanggal 21 April, hari Ibu 22 Desember, hingga hari Perempuan Internasional pada 8 Maret ini. Lantas apa esensi merayakan banyak-banyak hari perempuan? Apa kabar perempuan Indonesia sebenarnya hingga membutuhkan begitu banyak hari untuk dirayakan?

Perlu diingat, kita tidak bisa memandang setiap “perayaan hari perempuan” untuk menyemangati mereka untuk memilih apa yang mereka mau, karena mereka sering tidak tahu esensi mengapa mereka menyelamati atau merayakan hari tersebut. Ekspresi ikut-ikutan perayaan global atau merayakan feminisme dan gerakan perempuan sebagai budaya populer, tidak ada yang bisa memastikan. Baiknya, mari kita telaah terlebih dahulu secara historis tentang mengapa hari itu perlu diperingati setiap tahunnya agar diketahui esensi dari masing-masing perayaan.

Hari Kartini 21 April

Tanggal 21 April yang kita peringati sebagai hari Kartini tersebut adalah tanggal lahir dari seorang Raden Ajeng Kartini tepatnya tahun 1879. Saya memilih menggunakan panggilan Kartini, seperti dalam buku yang ditulis Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja karena pada umumnya diperayaan hari Kartini tersebut banyak anak-anak usia sekolah menyanyikan mars hari Kartini, “Ibu kita Kartini, Putri Sejati, Putri yang mulia, Harum namanya”. Berdasarkan buku Sejarah, Kartini tidak pernah merasakan menjadi seorang Ibu (biologis, melahirkan) beliau meninggal ketika melahirkan anaknya pada tahun 1904. Kita merayakan Kartini bukan sebagai ibu, kita merayakan Kartini sebagai pionir yang berani mengkritik budaya pingit untuk perempuan, poligami yang dilakukan para priyayi di Jawa yang terkenal dengan ke-feodalan-nya disegala bidang, dan intepretasi masyarakat terhadap agama yang senantiasa membatasi perempuan. Kita bisa berterimakasih pada doktrin pemerintah terdahulu yang membelokan Kartini sebagai Ibu yang mempopulerkan baju kebaya Jawa setiap tahunnya dan bukan sebagai sosok Cendekia Perempuan.

Hari Ibu 22 Desember

Tanggal 22 Desember adalah tanggal dilaksanakannya kongres perempuan pertama (waktu itu disebutnya istri) pada tahun 1928 di Indonesia yang tahun itu masih disebut Hindia-Belanda. Kongres tersebut merupakan tonggak para perempuan berkontribusi pada masa Pergerakan Nasional. (His)tory meminggirkan sejarah perempuan, juga melabeli perempuan dengan fungsinya secara biologis, melahirkan. Padahal, dalam Kongres tersebut sudah membuktikan bahwa perempuan dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan tidak hanya mendukung para suami berjuang secara fisik ataupun diplomasi tetapi perempuan itu sendiri juga berjuang. Pertama, berjuang keluar dari ruang domestik dapur, sumur, kasur demi menyelenggarakan kongres menyatukan suara segala organisasi perempuan untuk ikut dalam perjuangan kemerdekaan bangsa. Kedua, berjuang untuk Indonesia.

International Women’s Day 8 Maret

Hari perempuan internasional merayakan masuknya perempuan ke ruang publik dengan bekerja. Dengan bekerja dan memperoleh uang sendiri perempuan mampu memiliki dirinya menjadi bebas dan mandiri menentukan pilihan dan hidupnya. Isu keperempuanan dalam International Women’s Day adalah menghapuskan Gender Gap yang membelenggu para perempuan seperti: double standar, dan membuka kesempatan perempuan bekerja di seluruh aspek pehidupan. Di Negara-negara seperti Eropa, Amerika, dan Australia, perayaan Internasional Women’s Day diperingati sama populernya dengan Hari Ibu.

Perempuan Kini

Jika kita tarik dari ketiga hari peringatan tersebut esensinya satu, menyemangati para perempuan untuk maju masuk ruang publik, memberikan mereka ruang seperti Affirmative Action 30% dalam pencalonan legislatif pemilihan umum Indonesia. Bayangkan, tiga kali hari peringatan mendukung perempuan dalam setahun untuk satu negara? Mengapa kita perlu sebanyak itu? Memang bagaimana keadaan perempuan di Indonesia hingga kita butuh setidaknya tiga dari 365 hari untuk menyemangati mereka?

Kita tidak bisa melihat begitu saja dnegan mata telanjang dan menggeneralisir keadaan perempuan di Indonesia. Permasalahan perempuan kelas menengah pekerja di perkotaan berbeda dengan perempuan adat di Sumbawa, berbeda pula masalah perempuan di SMA yang terpaksa putus sekolah karena hamil di luar nikah dengan sulit terciptanya Women in Board dalam pucuk-pucuk kepemimpinan di Indonesia. Permasalahan perempuan harus dipetakan bukan serta merta dengan alasan “kita sudah memberikan perempuan ruang untuk masuk tetapi perempuannya tidak ada yang mencalonkan, bahkan ketika rapat pun perempuan kebanyakan diam saja tidak memberikan aspirasi apa-apa”.

Ketika ruang-ruang dibuka untuk perempuan, apa perempuan telah diberikan pengetahuan dan kapabilitas yang sama dengan laki-laki untuk mengisinya? Ketika perempuan berusaha mengembangkan dirinya, apa masih ada tekanan dari orang luar yang meminta mereka mempersiapkan rahim yang ada padanya untuk dibuahi? Kini ruang-ruang telah dibuka. Kesempatan perempuan dan laki-laki dibuat sama besarnya bahkan ada beberapa doping berupa kuota khusus perempuan. Tapi perempuan kemana? Setelah mereka merayakan hari untuk mereka sebanyak tiga kali. Mereka lupa, mereka distir untuk lupa, karena ternyata tiga hari dalam setahun belum cukup atau memang ternyata mereka menikmati sendiri persepsi kuno terhadap dirinya? Nyatanya, Perempuan masih banyak yang memilih diselamatkan pangeran tampan dan kaya dibanding menjadi pangeran untuk dirinya sendiri.

Author: Rendy Andriyanto

Feed your daily ego with oxymoron

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *