Berjabat tangan atau yang biasa disebut dengan bersalaman sudah menjadi suatu hal yang biasa dilakukan oleh siapapun dalam kondisi apapun, seperti melakukan perjanjian, berkenalan, ataupun berpisah.

Satu hal unik yang saya dapatkan setelah bekerja di suatu perusahaan swasta di Jakarta Selatan selama 9 bulan adalah ternyata jabat tangan dapat digunakan sebagai media untuk seseorang menilai lawan bicaranya.

Kok bisa sih salaman bisa dijadiin penilaian? Apakah itu tidak terlalu cepat untuk menilai orang?

Kalau begitu, cari pasangan juga gampang dong. Tinggal coba aja ajak salaman, kalau mantap, langsung deh nikahin.

Tidak semudah itu, Ferguso….

Saya bisa mengerti kenapa berjabat tangan bisa digunakan untuk menilai orang adalah karena ketika saya berjabat tangan dengan CEO tempat saya bekerja, saya menunjukkan sikap jabat tangan yang cenderung lemes dan tidak bergairah layaknya sedang bercinta dengan aktris idola.

Di saat seperti inilah, saya menerima teguran dari beliau.

“Kamu siap apa engga kerja disini?”

“Mantap apa engga dengan keputusan yang sudah kita diskusikan?”

Meskipun saya menjawab dengan penuh keyakinan, “Iya, Siap!!!!”. Tapi, tetap saja ekspresi keyakinan tersebut dirasa tidak 100% datang dari hati hanya karena jabat tangan lemas.

Beliau pun menjelaskan kepada saya, bahwa setiap orang yang sudah dan akan sukses, memiliki karakter hebat dari dalam dirinya. Dan karakter tersebut, tidak banyak dimiliki oleh orang lain.

Bukan hanya tentang bagaimana dia sabar menjalani kehidupan yang penuh dengan rintangan.

Bukan hanya tentang bagaimana dia berbicara keras di depan mimbar.

Bukan juga hanya tentang rutinitas apa yang dikerjakannya setiap pagi hari.

Jawabannya simpel.

Bagaimana kamu menunjukkan sikap dan karaktermu melalui proses jabat tangan dengan lawan bicara

Argumen ini semakin diperkuat setelah saya membaca sebuah artikel yang membahas tentang psikologis seseorang dalam berjabat tangan.

Melalui Reader’s Digest saya menemukan 8 tipe jabat tangan yang (menurut) mereka akan menunjukkan sifat asli kamu.

Jabat tangan yang kuat menunjukkan bahwa kamu adalah seseorang yang ingin menjadi dominan di kelompokmu dan bersikap ingin berkompetisi dan menjadi pemenangnya.

Jabat tangan yang lemah menunjukkan bahwa kamu adalah orang yang cukup apatis dengan situasi yang terjadi di lingkungan sekitar.

Jabat tangan tanpa menatap menunjukkan bahwa kamu tidak memiliki ketertarikan dengan lawan bicara atau terhadap apa yang sudah dijadikan sebagai keputusan setelah berdikusi.

Jabat tangan dengan kontak mata menunjukkan bahwa kamu siap dengan tantangan yang akan dihadapi.

Jabat tangan terlalu lama menunjukkan bahwa kamu memiliki keputus asaan yang cukup mendalam dan cenderung kurang percaya dengan lawan bicara.

Jabat tangan terburu-buru menunjukkan bahwa kamu gugup dan ingin segera menyudahi apa yang menjadi duduk permasalahan dengan lawan bicara. Bisa juga karena ingin menyudahi basa-basi perkenalan dengannya.

Jabat tangan dengan dua tangan menunjukkan rasa hormat kamu terhadap lawan bicara dan sangat tertarik dengan doi.

Yang terakhir, jabat tangan yang sempurna. Tidak terlalu kuat dan tidak terlalu lemah. Bahkan, kombinasi dari 7 tipe jabat tangan bernilai positif di atas. Pokoknya sempurna, lah…

Bahkan, Jesse Bering dalam Scientific American pernah menyebutkan bahwa simpanse juga memiliki nilai psikologis dalam proses mereka berjabat tangan. Simpanse yang menjulurkan tangan terlebih dahulu adalah simpanse yang memiliki tahta tertinggi di dalam suatu kelompok.

alamakkkkkk berarti sampai saat ini saya orangnya ternyata gugup, tidak percayaan, dan kurang siap dengan segala tantangan yang akan dihadapi….matilahhhhhhh

Tapi, apakah cukup sampai disini saja penilaian itu akan terjadi? Rasanya sangat tidak adil bagi saya yang cenderung ingin menunjukkan sikap menghargai dan menghormati lawan bicara dengan cara bersalaman yang tidak terlalu kuat dan tanpa menatap mata.

Bagaimana dengan penilaian psikologi lainnya yang (katanya) dapat dilihat melalui kontak mata, cara bicara, cara duduk, cara berdiri hingga cara saya berjalan?

Apakah semua itu akan hilang dan sirna hanya karena first impression mereka saat bersalaman?

Sabarlah dulu, bung…Anda baru bisa sepenuhnya tau after first impression, karena action jauh lebih penting daripada penilaian pertama.

Author

Feed your daily ego with oxymoron

Write A Comment